Sabtu, 10 Januari 2009

Puisi: Menggali Alam Bawah Sadar Secara Sadar

Alkisah, manusia berkembang menjadi dua arah jalan. Yang satu tumbuh dengan memiliki napsu dan hasrat, ego untuk meraih dunia di ‘luar’ darinya, sementara beberapa yang lain tetap berkembang dengan bersahabatkan alam, suara-suara alam, bahasa-bahasa alam, perilaku-perilaku alam. Sebagaimana konsep dua sisi yang disebutkan sebelumnya, dalam setiap diri manusia terkandunglah berbagai ‘dua sisi’ tadi: malaikat dan setan, api dan air, cahaya dan gelap, napsu dan akal, nyata dan maya, realitas dan imajinasi, wujud dan gaib. Sebut saja manusia ‘alam’ tadi dengan A, dan manusia ‘napsu’ tadi dengan B. Maka seiring berjalannya masa, mereka tumbuh dengan dua sisi yang tidak seimbang dalam diri mereka.

Kita mulai dengan manusia B, ia tumbuh dengan hasrat. Oleh sebab napsu yang ada di diri mereka kadarnya semakin besar, maka satu sisi ‘lain’ yang ada dalam dirinya adalah kebalikan dari itu, semakin tergerus, semakin pudar. Dapatlah kita ‘beri wujud’ manusia B itu adalah manusia-manusia pada zaman sekarang, pada masa kini. Manusia masa sekarang tumbuh dengan akal lebih dominan dari hatinya, genangan sikap dan sifat realistis lebih pekat dari imajinasinya, kenyataan-kenyataan dan pikiran-pikiran atas dunia lebih penuh dalam dirinya ketimbang bayangan-bayangan akan dunia gaib, dunia yang tak tersentuh, dunia alam, yang notabene dahulu adalah pembentuk dirinya sendiri, sahabatnya sendiri.

Lalu manusia A, yang bersahabat dengan alam, tinggal bersama alam. Sebutlah pada zaman sekarang mereka ini adalah kelompok-kelompok yang kita sebut dengan manusia ‘primitif’, oleh karena mereka dianggap terlalu ‘tradisional’ dan ‘ke-moyang-moyangan’. Mereka senantiasa berdialog dengan alam, dengan hujan, langit, kemarau, pepohonan, burung-burung, bulan, bintang, malam, matahari. Mereka hidup dengan petunjuk-petunjuk yang mereka tangkap dari perangkat-perangkat alam tersebut.

Mari kita fokuskan perhatian pada manusia B, manusia yang akan kita bahas kali ini, manusia-manusia yang adalah kebanyakan dari diri kita sendiri. Meskipun telah kita katakan bahwa manusia B hidup dengan ego dan hasrat, namun beberapa di antaranya masih ada yang mencoba untuk kembali menoleh ke alamnya yang ‘lain’. Beberapa manusia ini menggunakan berbagai cara dan metode untuk melakukan dialog dengan alam. Puisi, adalah salah satunya. Dan sebut saja mereka yang menggunakan puisi sebagai cara untuk berdialog dengan alam adalah, penyair.

Penyair menggunakan puisi untuk melakukan dialog dengan alam. Mereka sadar kepekaan mereka terhadap hal-hal alam dan gaib telah sangat pudar, dan itu menjadi sebab atas ketidakseimbangan hidup mereka di dunia. Maka, mereka mulai melakukan usaha-usaha untuk menangkap bahasa dalam alam bawah sadar, untuk melakukan komunikasi dengan yang alam, yang gaib. Mereka membuat (menulis) puisi sebagai wujud penyaluran atas apa yang mereka tangkap dari alam, atas apa yang telah alam bawah sadar mereka dengar, atas apa yang telah alam bawah sadar mereka rasa. Maka, secara otomatis mereka juga mengasah kepekaan alam bawah sadar mereka. Atau lebih tepatnya, mereka mengasah kepekaan sadar (akal) mereka untuk membuat suatu koneksi dengan alam bawah sadar (hati) mereka, kemudian menggunakan alam bawah sadar mereka untuk berkomunikasi dengan dunia ‘gaib’ atau ‘semu’ di dalam dirinya maupun di luar dirinya, lalu mengembalikan hasil ‘tangkapan’ ataupun ‘dialog’ tadi ke alam sadar, kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa alam nyata (bahasa biasa/sehari-hari) hingga jadilah ia sebuah tulisan yang disebut dengan istilah ‘puisi’.

Salah satu tujuan menulis puisi adalah untuk mengasah kepekaan. Kepekaan rasa dan kepekaan bahasa sekaligus. Kepekaan rasa, mewakili proses yang dilakukan oleh alam bawah sadar, untuk mengenal apa-apa yang ada dalam dunia ‘semu’, untuk melakukan dialog atau sekadar menangkap petunjuk-petunjuk dari alam. Sementara kepekaan bahasa, mewakili proses yang dilakukan oleh alam sadar, untuk mengadakan koneksi dan usaha-usaha merajut ‘tali’ dengan alam bawah sadar, lalu menangkap aliran dari dialog yang telah alam bawah sadar berhasil lakukan, untuk selanjutnya disalurkan menjadi puisi.

Maka dengan proses-proses yang dilakukan secara sadar, dalam hal ini adalah menulis puisi, perlahan namun pasti penyair memiliki suatu kepekaan yang menyebabkan mereka memiliki kemampuan tersendiri untuk melakukan komunikasi dengan alam bawah sadar mereka. Membuat mereka dapat mengetahui apa-apa saja yang ada di dalam alam bawah sadar mereka, pesan-pesan yang bersemayam di sana, petunjuk-petunjuk yang terpatri di sana, bahasa-bahasa atau nasihat-nasihat hidup yang terukir di sana. Dengan puisi, mereka akan mampu menyeimbangkan diri mereka, tidak lagi menjadi wujud manusia A atau manusia B, tapi menjadi wujud satu manusia yang utuh dengan dua sisi yang tidak hanya seimbang kadarnya, tapi saling melakukan komunikasi dan saling berdialog, saling bercampur, saling menyatu.

Alhasil, dengan puisi, mereka akan mampu menjalani hidup yang nyata dan penuh dengan realitas, yang berjalan berdampingan dengan alam gaib dan imajinatif yang memberikan mereka pesan-pesan dan petunjuk-petunjuk dari alam. Dan dengan puisi, mereka telah berhasil membangkitkan alam bawah sadar mereka secara sadar, untuk tujuan menjalani hidup di dunia dengan seimbang, dengan akal dan hati sekaligus, dengan pikiran dan perasaan sekaligus, dengan masa depan dan sejarah sekaligus.

Kamis, 18 Desember 2008

Senior sastra Indonesia


Willibrordus Surendra Broto Rendra (lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935; umur 73 tahun) adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak". Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967 dan juga Bengkel Teater Rendra di Depok. Semenjak masa kuliah beliau sudah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah.

Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat.

Ia petama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun 60-an dan tahun 70-an.

“Kaki Palsu” adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan “Orang-Orang di Tikungan Jalan” adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya. Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.

Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India.

Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995).

Selasa, 16 Desember 2008

Penjaga pintu

aku bosan mengikuti jalan di bawah telapak manusia

sebab mereka tak pandai memilih jalan yang tak berduri dan berbatu

asal kakinya tak terluka jalan mana saja akan dipijaknya

bila mereka masuk kerumah kita berdua akan dilupakan

kita hanyalah alas dan alasan-alasan lain dalam perjalanan

namun bila kita tidak ada atau menghilang lantaran dicuri

mereka pun akan segera mengeluh,

dan kalau salah satu kita talinya putus tak akan ada yang diutus

mencari pengikat agar tali kita kembali nyambung

kita bak prajurit-perajurit lugu penjaga pintu dan saksi bisu

mesti yang kerap kita intip juga bukan barang palsu

tapi kita tak pula ragu menunggu dengan berselimut tahi dan debu,

atau kita menggebu seperti irama langkah majikan kita

menjalani kehidupan dengan langkah palsu,

pasangan sendal jepit kanan hanya diam seolah pasrah menerima kutukan

Senin, 01 Desember 2008

temen-temen impas

Pengantin di perigian


by: erwin

malam pudar bintang tenang di lapis langit pertama

di teras bawah rumah panggung

hujan basahi cerita pengantin di perigian

malam hanyut dalam sarung setengah badan

sambil bermain batang siluman

segeralah jadi pengantin:, selimut melapuk ragi di kamarmu

malam tak lagi tabu untuk bermain jemari

dan tak pula lengkap kesahmu menjadi bujang

menunggu rumah kerabat tua

malam itu tak lepas baju dewasa yang kau kenakan

selepas sore menunggu gadis-gadis pulang

mencuci tulang disungai panjang

diantara yang kau tunggu

dalam cerita pengantin di perigian

canda gadis-gadis desa tersimpan dalam hujan

Air Seni


Kepada: Hanapi

bahkan kaupun takut hanya sekedar

melewati gelap di ruang tengah rumah panggung

warisan buyutmu.

“biar ku buang air seni di lobang dinding serambi itu ucapmu

emak bapak, sanak keluarga tak lagi perduli

begitu pula aku”

kau tertawa rendah sembari menyelimuti tubuh dengan sarung

gegas ke ranjang kayu tenam dalam kamar,

kau pun seolah hendak menjaga sangkar burung kesayanganmu malam itu

kelak dewasa beranjak burung tak hinggap kesembarang

ranting bunga kertas di samping rumah tetangga.

bangkai rumput

Bangkai Rumput

menunggu teduh pohon akasia

burung-burung melempar kotoran

di atas rumput pada sisa malam

ramalan cuaca dan peta nasib

dan berbotol-botol tinta warna

menghabiskan gairah peluh dan duka

di rumah sewa awan pagi telah menua

bunga teratai dan bunga bangkai tak ada bedanya?

dan terapi luka

kuli birahi menggerus upah menjadi tanah

udara disesaki aroma kemenyan

kalender